Minggu, 11 Maret 2012

About Me According To Ipersonic

Your iPersonic Type: The Engaged Idealist


Engaged Idealists like you are extroverted and helpful. Others find you to be very congenial and inspiring - especially as you are always willing to see the best in the other person. Your humour, your energy and your optimism attract other people. Engaged Idealists are very good at communicating and are good at convincing and firing on others. That is why it is a matter of course that you often take over the leading role in groups. Your personality type often produces very charismatic persons.

Engaged Idealists have an unusually strong ability to empathise. You are tolerant and generous towards others; you sometimes tend to idealise your friends. You always try to suit everybody and want your relationships to be harmonious and satisfactory. To achieve this, you are prepared to invest a great deal and to put your requirements last. As Engaged Idealists are very considerate, there is the danger of you sacrificing and overexerting yourself for others. In your job, you therefore have to be very careful not to develop a burnout syndrome.

As an Engaged Idealist you are one of the extroverted personality types. You enjoy working in a colorfully diverse group of people who interest and inspire you. Working in a “secluded room” is not your thing. You enjoy emphasizing with those around you and soon everybody senses the high priority and importance people represent to you. Therefore a team-oriented project is just right for you.

Your insight into human nature, your feel for your colleague’s and/or subordinate’s positive sides and potentials and your preparedness to encourage and support everyone around you to the best of your ability quickly brings them closer to you. People like to ask you for advice, appreciate your caring ways and appreciate to be taken under your wings. Within your means you are always available to others who need you because you yourself enjoy the ultimate gratification of being able to help others to make the best of themselves and to be successful mediating conflicts among people.

You are well suited to be an executive: It is difficult to resist your charisma, your enthusiasm and your ability to excite and motivate others. Authoritarian management attitudes are not your thing; it is your way to convince others of a project’s reason and significance who will then look forward to follow you voluntarily. You place a lot of value on creating the willingness to cooperate in others and with your gift to motivate that usually comes easy to you. You do not enjoy conflicts, need harmony and invest lots of energy and time in a good working climate and a harmonic relationship of your colleagues among each other.

Kamis, 01 Maret 2012

Talk About Feeling

Bicara tentang rasa adalah suatu yang simple tapi rumit. Rasa adalah hal yang aksesnya sangat gampang. Rasa berngaruh besar terhadap cara seseorang mengungkapkan rasa dan emosinya. Hal seperti itulah yang saya alami. Perubahan emosi membuat saya menjadi perangkai kata-kata seketika. Saya mendadak puitis, dan begitulah saya mengungkapkan emosi saya. Terlebih lagi saat sesuatu yang menyedihkan yang membuat saya galau, saya marah dan sedih membuat kata-kata menari-nari dibenak saya sehingga saya tidak sabar untuk meluapkannnya. Lalu bagaimana dengan Anda? Setiap orang memilik cara yang berbeda dalam meluapkan rasa dan emosinya. Ini adalah sekilas kulit paling luar tentang pembahasan rasa.Sekarang mencoba memasuki ranah yang lebih spesifik, saya ingin membahas tentang salah satu dari dari rasa itu. Yang paling besar itu adalah rasa cinta. Cinta itu sangat luas. Tapi disini saya ingin membahas tentang cinta terhadap sesama manusia yaitu terhadap lawan jenis.Bicara tentang cinta, saya bukanlah pujangga. Tapi saya ingin membagi tentang rasa cinta yang saya pahami. Entahlah......tapi memang seperti ini adanya. Dalam membagi cinta, saya sangat hati-hati. Akses cinta saya berbelit-belit sehingga saya butuh waktu yang sangat lama  untuk menyadari dan mendeklarasikan tentang cinta saya kepada seseorang. Entah lah saya terlalu hati-hati atau mungkin parno dengan cinta. Tapi memang seperti itu lah kehati-hatian saya untuk berbagi cinta. Saya adalah tipikal oranga yang mungkin sangat baku dalam hal ini, Saya susah untuk jatuh cinta dan saya susah untuk menghapus cinta yang pernah ada. Ini artinya saya sangat setia dengan cinta yang saya pilih. Saya sangat hati-hati. Namun, meskipun kehati-hatian itu sudah luar biasa, saya masih belum menemukan kisah yang  sempurna. Saya tetap mendapat hal-hal baru mengenai perasaan yang diluar dugaan saya yang sekaligus menjadi pelajaran buat saya. Dari semua itu, saya tetap merasa bersyukur dengan kekuatan hati saya untuk setia, dan tidak mudah untuk berpaling dari hati yang satu kehati yang lain dalam waktu yang singkat, karena saya menyadari cinta itu sakral, dan saya tidak ingin menebar cinta itu, biarlah cinta itu terpaut di singgasana hati yang luar biasa yang benar-benar pantas untuk dicintai. Saya menjaga hati hingga masanya tiba, saya dipertemukan dengan  Cinta Sejati saya di waktu yang tepat Oleh Allah SWT...:)

Jumat, 24 Februari 2012

You--Me





You come I come...
You want to know me...
I try to know you...
You go far away..
I will not go or come...
You ask me something..
I ask you a thing...
You have questions..
I have answers...
You ask me to joint...
I joint...
You ask me to come..
I come....
You try to give me something good,,,,
I try to give the same...
You show me that you need me
I try to be with you
You keep silent...
I have no word...
I only will follow a thing that you start before...
Because that is a thing that I can..
If you go,,,,,I only have a question..."why??"..
 I will never ask you "why??"...
I only will save a sentence on my mind..
"Nice to meet you".....
" Nice to know a little thing about you"

Kamis, 16 Februari 2012

IDEALISME SAYA DI TANTANG

Dari tadi saya pulang wawancara, sangat menunggu saat dimana saya bisa berada didepan komputer, meluapkan ganjalan dihati dan pikiran saya. Okee..singkat saja. Sore ini saya baru saja melewati tahapan wawancara dalam sebuah rekruitmen staf sebuah organisasi. Saya tidak perlu membahas organisasi apa, saya hanya ingin membagi hal yang sampai saat ini mengganjal dikepala saya. Saya bingung ini apa, apakah saya takut? Apakah saya marah?Atau mungkinkah saya malu? Atau mungkin saya merasa terhina. Entah lah...meski sulit, saya akan tetap mencoba merangkai kata yang bisa menjelaskan perasaan saya saat ini.
Saya memasuki ruang wawancara, saya harus menghadapi tujuh orang pewawancara sekaligus. Saya dijejali banyak pertanyaan. Saya lupa pertanyaanya apa saja, tapi dari beberapa pertanyaan awal yang saya ingat ketika saya diminta untuk menyebutkan tiga kelebihan dan kekurangan saya. Jujur, saya memang bingung. Saya tidak tau harus menjawab apa. Banyak jeda yang saya butuhkan untuk menjawab pertanyaan itu. Tidak hanya pewawancara saja saya sendiri bisa menyimpulkan bahwa saya tidak mengenal diri saya. Eh...bukannya tidak, tapi belum mengenal diri saya. Ini adalah masalah saya pertama yang menjadi catatan bagi saya sore ini. Saya sedih dengan keadaan saya sendiri yang belum mengenal siapa saya. Bagaimana mungkin saya bisa memahami orang lain sedangkan saya tidak memahami siapa saya sendiri. Saya harus mendapatkan jawaban tentang siapa saya secepatnya. Yaaa...ini perlu menjadi renungan. Wawancara terus berlansung hingga saya dihadapkan pertanyaan pilih mana antara kuliah dengan organisasi. Saya menjawab bahwa kuliah itu penting, dan organisasi menjadi menyempurna proses belajar saya itu. Bagian ini lah yang paling berkesan buat saya. Dimana saya seolah-olah salah jika saya memprioritaskan kuliah ditingkatan teratas apabila saya ingin sampai pada cita-cita saya sebagai seorang pengusaha. Saya didebat dibagian ini. Saya disajikan fakta-fakta tidak ada pengusaha yang pintar dalam pendidikannya. Saya setuju dengan keadaan itu. Memang dalam dunia usaha itu kemampuan akademik samata itu tidak menjamin, tapi saya memiliki idealisme untuk menyeimbangkan antara softskill dengan akademik. Bagi saya, keberhasilan dibidang akademik itu adalah sebuah kebutuhan. Hidup saya terasa lebih lengkap apabila saya memiliki pendidikan yang baik dan juga bisa mencapai kesuksesan saya dimasa depan saya. Saya memang memiliki target yang sangat tinggi. Saya ingin lulus sebagai cumlouder setelah menempuh pendidikan S1 selama empat tahun. Dari perdebatan tadi saya seoalh diberi penjelasan bahwa idealisme saya untuk menjadi seorang usahawan yang memiliki kemampuan akademik bagus itu adalah hal yang mendekati ketidak mungkinan. Saya harus memilih untuk total di organisasi atau total di kuliah saja. Sebab maksimal dikeduanya itu adalah hal yang tidak mungkin, apalagi dengan gambaran IPK saya semester awal ini tidak mencapai cumloud. Saya merasa ada sesuatu yang terlanggar dihati saya. Saya tepukul. Entah lah...........Mungkin disatu sisi saya merasa seolah-olah merasa bodoh terjebak dalam beberapa pertanyaan dalam wawancara tadi. Saya ngerasa adanya wujud ketidakkonsisten saya. Entah bakalan seperti apa mereka menilai saya....................saya bisa tau jawabannya. Tapi sebenarnya yang menjadi masalah bagi saya bukanlah bagaimana mereka berpendapat tentang saya, bukan bagaimana nantinya saya diterima atau ditolak. Tapi pertanyaan tentang identitas diri saya yang saya sendiri belum bisa dengan tegas menjelaskan tentang siapa saya yang membuat saya sedih. Hal ini lah yang membuat saya tercenung. Saya terdiam...kembali mengingat-ingat detail dari wawancara tadi. Pelajaran dari kejadian sore ini adalah, saya perlu tau siapa saya. Saya perlu menemukan identitas diri saya sebelum semuanya terlambat.Iyaa.........hari ini saya memang belum apa-apa. Tapi saya akan menjadi seseorang. Yaa...seseorang dengan prinsip dan konsistensi yang jelas. Saya tidak mau terjebak lebih dalam dalam keadaan seperti ini. Saya punya identitas dan saya bermutu sebagai seorang pemimpin dan usahawan yang juga seorang akademisi. Saya sempat menyalahkan idealisme saya, merasa bodoh dengan jawaban-jawaban saya di wawancara sore tadi. Tapi alhamdulillah dengan sangat cepat saya bisa menyadari bahwa peristiwa tadi sore telah mengingatkan saya secara jelas mengenai hal besar yang selama ini saya lupakan, yaitu tentang identitas,prinsip,dan konsep diri saya. Mungkin memang mereka akan beranggapan bahwa saya terlalu besar omong untuk bermimpi itu. Tapi saya tetap berkeyakinan bahwa inilah idealisme saya. Saya akan menjadi seorang pemimpin yang merupakan seorang akademisi yang sukses dalam usahanya. Dan saya akan buktikan bahwa saya bisa meraihnya. Saya akan berusaha, mungkin kedengarannya saya terlalu ambisius. Tapi munafik juga jika seorang pemimpi itu tidak ambisius. Ambisi yang membuat seseorang itu berani dan sanggup berjuang. Dan saya tidak perlu malu apabila di cap ambisius. Tapi terserahlah......hak mereka yang memandang serta menilai saya. Saya tetap ingin mencapai idealisme saya. Dan saya akan berusaha. Ini adalah hidup saya, dan ini adalah prinsip saya. Semoga ini momen baik yang diberikan Allah SWT yang sengaja dirancang ntuk menyadarkan saya tentang kelemahan besar saya. Yaaa....hari ini saya mendapatkan suatu hal yang sangat penting. Dimana pandangan saya yang selama ini kabur dan tidak tau tentang diri saya, sore ini memahami tentang kelemahan saya yang sangat besar. Saya juga mendapatkan debatan biasa yang sangat menendang bathin dan pikiran saya secara luar biasa, idealisme saya di tantang. Kata-kata mereka tadi menancap dalam dalam hati dan pikiran saya. Saya akan buktikan bahwa saya bisa menjadi cita-cita saya. Saya yakin cita-cita saya baik dan tidak merugikan siapapun. Semoga jalan saya dimudahkan......yaaa, terimakasih untuk pewawancara. Terimakasih telah menyadarkan saya tentang hal yang selama ini saya lupakan. Saya akan belajar............
Allah....Alhamdulillah untuk pelajaran sore ini. Semoga ini memang petunjuk-Mu yang merupakan arahan dari-Mu agar aku menjadi lebih baik. Terimakasih..^^

Rabu, 15 Februari 2012

GW GALAU

SOMETHING yang ga enak tiba-tiba MUNCUL....
APAKAH GUE TAKUT??
NO..................GA BOLEH. HANYA LOSER yang takut sebelum PERANG. Dan gue BUKAN GOLONGAN ITU..............

Selasa, 14 Februari 2012

Prioritas

Sebagai kawula muda yang tengah bersemangat, tentunya kita memiliki banyak rencana serta target tentang pencapaian yang ingin kita peroleh dari waktu ke waktu. Semuanya telah terdaftar dengan rapi dan terlihat sama pentingnya. Semuanya berada di dereten pertama, ya karena hal itu benar-benar kita inginkan. Untuk pencapaian target-target tersebut pastinya kita harus melalui tahapan-tahapan yang mungkin tidak mudah. Butuh waktu, tenaga, cara, strategi serta kebutuhan lainnya. Meskipun kita sadar bahwa semuanya butuh proses, ga jarang kita berpikiran serta mengahrapkan semua target-target tersebut bisa tercapai dalam waktu yang singkat. Padahal kita tau, semuanya bukanlah hal yang gampang, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada baiknya dalam penyusunan target-target serta pencapaian tersebut kita harus berpikir lebih realistis dan tidak hanya mengutamakan ego semata. Siapa sih yang tidak mau semua harapan serta tujuannya tercapai dalam waktu yang singkat? Pastinya semua mengharapkan hal yang sama. Tapi secara realita, itu bukanlah yang mungkin. Kita butuh proses dan waktu. Makanya, dalam hal ini kita perlu menentukan prioritas. Yaa, kita perlu menyusun serta merentang prioritas dari masing-masing tujuan tersebut mulai dari yang major ke yang mikro. Ini artinya, apabila kita dihadapkan pada situasi yang dimana kita harus menghendel semua hal yang kita butuhkan itu kita bisa memilih sesuai dengan yang lebih tinggi prioritasnya. Karena, kita bukanlah makhluk luar biasa yang mampu melakukan semuanya dengan mudah seolah hanya kedipan mata. Yaa.....prioritas. Kita perlu merangking setiap rencana dan target dengan skala prioritas yang tepat agar dalam proses pencapaiannya kita bisa lebih terarah dan tidak menyampur baurkan tanpa dasar yang nantinya malah berakibat kita tidak mencapai apa-apa, karena tidak ada yang kita lakukan dengan maksimal.
Semangat....your dreams are on your hand..Your future is depens on you:D