Tampilkan postingan dengan label my lessons. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my lessons. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Maret 2012

Budayakan ""terimakasih"""

Terimakasih Bapak...
Terimakasih Ibuk....
Terimakasih mbak....
Terimakasih.........

Siapa sih yang ga suka kalau diberi ucapan terimakasih??

Pasti semua orang suka dengan kata-kata itu. Terimakasih ada kata yang sekilas sangat simpel dan terdengar biasa. Namun dibalik ke-biasa-annnya itu kata-kata itu adalah sebuah pemberian yang luar biasa. Kata terimakasih memberi kekuatan kepada orang yang dituju. Dengan terimakasih, seseorang merasa dihargai.

Dengan terimakasih, seseorang itu merasa dianggap berarti dan penting. Dan itu secara emosional memberikan bentuk kepedulian dan penghargaantersendiri. Dengan kata terimakasih dari orang lain, seseorang secara alami akan merasa telah memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan orang lain. Dan memberikan kepuasan tersendiri buat individu setelah melakukan sesuatu.

Kala seseorang memberikan bantuan atau melakukan sesuatu untuk suatu keperluan atau untuk orang lain, yang mereka butuhkan hanyalah 'terimakasih'. Yaa.....sebesar atau sekecil apapun tindakan yang dilakukan oleh seseorang, mereka hanya butuh terimakasih. 'Terimakasih' sudah lebih dari cukup dari sekedar bayaran ataupun bentuk pujian lainnnya. Karena, secara alami manusia itu butuh dihargai dan ingin di anggap berarti.

Budayakanlah 'Terimakasih' kepada siapapun. Baik untuk kebaikan besar maupun hal kecil sekalipun kepada orang lain. Karena, sesungguhnya mereka hanya membutuhkan feedback seperti itu, bukan yang lain.......
Terimakasih, tanpa disadari juga mampu mengantarkan kita pada kedekatan secara emosional dengan orang lain...

Kamis, 22 Maret 2012

What is the GOAL of being an University student??

Hmmm.....Apa tujuan kita kuliah???

Pertanyaan yang sangat simple dan terkesan retoris. "Yaa buat dapet kerja yang layak lah.....", mungkin itu jawaban paling umum. Tapi, coba deh dipikirin lagi. Jangan terlalu terburu-buru menjawab pertanyaan itu. Maknai dan resapi dalam-dalam pertanyaan itu!!

1

2

3

4

5
.
.
.
10

tetoooottttttttt................

Oke waktunya habis.
Apa sih yang terlintas dipikiran kita??


Untuk membahagiakan orang tua dengan IPK memuaskan,
Untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan penghasilan yang sesuai,


Ambil nominasi jawaban paling umum 2 hal diatas. Mungkin pilihan 1 bisa 98% benar. Tapi bagaimana dengan pilihan yang kedua?? Apa anda yakin dengan jawaban tersebut??

Enggak, lulus sarjana bukanlah jaminan seseorang itu bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan sesuai. Bukanlah jaminan seseorang itu  akan hidup berkecukupan dimasa depannya nanti. Lantas kenapa, melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi seolah-olah menjadi hal yang sangat penting dan wajib dipenuhi sebagai syarat masa depan yang cerah bagi sebagian besar masyarakat. Pendidikan tinggi dan kesuksesan masa depan seolah-olah menjadi biimplikasi. 'Kita bisa sukses dimasa depan, hidup berkecukupan jika dan hanya jika kita memiliki background pendidikan yang tinggi'. Tapi apa benar demikian???

Semakin kesini, saya menemukan jawaban apa tujuan saya kuliah. Dan biimplikasi kesuksesan dengan bermodalkan pendidikan minimal sarjana tidak sepenuhnya benar. Karena, ternyata sesungguhnya tujuan dan output dari bangku pendidikan itu bukanlah seperti itu. Dan disinilah saya menyadari kesalahan paradigma kebanyakan dari kita dalam memaknai dan meyakini tujuannya menjalani pendidikan tinggi.

Kuliah bukanlah untuk mendapatkan profesi yang layak, bukan untuk mencapai kehidupan yang serba berkecukupan, dan hubungan keduanya itu tidaklah mutlak. Jika kita mengartikan hubungan sukses dan pendidikan tinggi sebagai biimplikasi, itu adalah kesalahan yang sangat besar. Karena, faktanya banyak sarjana yang hidup di garis miskin dan tidak mendapatkan penghidupan yang layak karena dia hanyalah seorang tunakarya. Dan begitu juga sebaliknya, banyak diantara mereka yang tidak mengeyam bangku sekolah yang menjadi milyarder dan mendapatkan penghidupan yang serba berkelimpahan. Ironis...seolah-olah distribusi seperti itu tidak adil. Tapi begitulah keyataan....

 Dari fakta-fakta seperti saya menemukan suatu kesimpulan bahwa ternyata pendidikan tinggi itu adalah suatu sarana untuk kita belajar dan mengembangkan potensi otak, melatih kecersadasan, dan mempetajam kemampuan otak. Kalau otak kita tidak bekerja, kita seperti tidak hidup. Mugkin seperti itulah analogi ekstremnya. Belajar adalah sebuah kebutuhan. Hanya itu. Tapi belajar di akademik hanyalah sebagian kecil dari proses pembelajaran. Dan disinilah kesalahan paradigma yang kedua. Kita cenderung berpikir bahwa belajar hanyalah yang berhubungan dengan akademik. Padahal, banyak aspek lain yang memberi kita pelajaran tapi tidak kita sadari. Dan mungkin banyak juga mereka yang bagus di bidang akademiknya memperoleh profesi dan penghidupan yang sesuai harapan. Itu bukan karena semata kecerdasan akademiknya. Tapi juga oleh kemampuan lainnya yang juga terasah dengan baik. Sehingga potensi yang dia miliki berkembang secara seimbang. Dan keberhasilan itu pantas untuk dia dapatkan. Begitu juga dengan mereka yang background pendidikannya tidak bagus, mereka bisa berhasil karena potensi-potensi lain yang dia miliki berkembang dan di asah secara baik.

Nah...begitu juga dengan kita. Seharusnya, sebagai mahasiswa, akses kita pada semua aspek ilmu itu akan lebih bagus dari mereka yang tidak mengeyam pendidikan. Bukan bermaksud membagi kelas, tapi begitulah perbandingannya. Cuma, masalahnya kita cenderung monoton dalam menyikapi kesempatan-kesempatan disekitar kita. acapkali mengabaikan hal-hal yang sebenarnya penting hanya untuk hal-hal yang terkesan penting. Kita cenderung berpikiran sempit dan hanya mau tau tentang bidang keilmuan kita di kuliah. Padahal, kita sebenrnya membutuhkan semua aspek. Dan sebagai maahasiswa agar kita berkualitas dan benar-benar menjadi kaum intelektual secara utuh, kita seharusnya tau tentang banyak hal dalam berbagai aspek. Meskipun tidak terlalu mengetahui detailnya, setidaknya paham. Buktikan potensi yang kita miliki terasah sempurna secara seimbang agar kita berkualitas. Pelajari lah semua yang mungkin dipelajari. Jangan mengkotak-kotakkan ilmu. Karena ilmu itu satu.

Paradigma yang perlu diperbaiki. Belajar itu penting. Prestasi dan kecerdasan intelektual itu selalu perlu diasah. Dan untuk mengejar kesuksesan masa depan impian, banyak aspek yang perlu dipersiapan, dan ranahannya sangat banyak diluar sekedar kemampuan akademik. Karena sesungguhnya, akademik hanyalah secuil kecil dari sekian banyak pembelajaran itu. Kembangkan lah secara sempurna.

Jangan kuliah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena tujuan kuliah sebenarnya untuk meningkatkan kecerdasan otak yang secara tidak lansung berkorelasi positif dengan kesuksean tapi bukanlah biimplikasi. Keberhasilan dibagku kuliah ada kebutuhan, dan persiapan, keahlian dan improve diri di banyak hal lainnya juga sangat penting.

Selagi masih muda, jangan berhenti belajar. Cari tau banyak hal. Dan asahalah semua potensi yang telah atau belum kamu miliki. Dunia ini akan indah jika kamu mau membuatnya indah. Dan butuh usaha yang keras untuk hasil yang indah itu..........



FIGHT.....FIGHT............
ini pasti berlalu. sekarang memang terasa berat....
tapi ini hanya masalah kebiasaan....
Dan adalah tugas besar gue untuk membuat semua ini menjadi kebiasaan..........
pasti bisa...
up....up.....


**************************************************************************


Selalu Ada 2 Sisi

Dua sisi...
Dua sisi.....
yaaa........dua sisi. Ini bukan pembahasan mengenai bangun ruang loh.....**kriuk-kriuk yang bilang bangun ruang juga siapa coba....$%%%

Oke...Anyway.....gue mau sedikit share ini pemikiran gue tentang....eemm....apa ya, gue juga bingung hal ini berhubungan dengan apa. Intinya,setiap hal itu memiliki dua sisi. Dan kita harus fleksibel dalam menerima dan menjalani setiap kemungkinan dari dua sisi itu....Ehmm.....apa penjelesan gue barusan masih terlalu abstrak??

Jadi gini loh.....misalnya, kita melakukan sesuatu, pasti ada dua kemungkinan kan,yaitu berhasil atau tidak. Diterima atau tidak, lulus atau tidak, benar atau salah, dimenegrti atau enggak dan sebagainya. Dua sisi itu pasti akan selalu ada dan kita tidak bisa memaksa dan mematok akan seperti apa hasilnya nanti dan bagaimana respon dari lingkungan, baik itu orang-orang disekitar atau emang kondisi lingkungannya. Kita harus fleksibel dan open dalam menerima setiap kemungkinan dan respon dari lingkungan itu. Tidak mungkin memaksa semua orang atau semua segi itu memberi respon positif......Karena, pro dan kontra pasti akan tetap ada. Kita tidak mungkin memaksa orang lain bisa menerima kita, tidak mungin berharab terlalu banyak orang lain itu bisa baik kepada kita, percaya kepada kita, nyaman bersama kita, karena itu soal pilihan, dan mereka berhak memilih untuk bersikap seperti apa atau memberikan respon yang bagaimana. Itu sangat tergantung pada masing-masing pribadinya.

Begitu juga sebaliknya, kita berhak untuk melakukan apa yang kita mau. Berhak mengikuti kata hati kita sendiri. Menentukan arah tindakan yang kita suka. Menentukan sikap kita mau seperti apa, menyukai siapa saja, tidak suka dengan siapa saja. Terpenting itu hanyalah konsep diri kita. Selama kita yakin apa yang kita lakukan itu baik dan benar, lanjutkan. Dan jangan pernah goyah ataupun ragu hanya karena respon-respon negatif dari sekitar yang kita sendiri ga tau alasannya apa. Terpenting keyakinan kita. Masalah pro dan kontra ataupun berhasil atau gagal itu hanya lah soal respon. Dan itu alami. Kita harus fleksibel dan terbuka menerima itu. Jadikan hal-hal seperti itu sebagai penguat dan ajang introspeksi diri, tapi jangan sampai mengubah pendirian dan jati diri tanpa alasan hanya karena keinginan untuk disukai semua orang. Karena itu tidak mungkin, sebanyak-banyaknya yang suka, pasti ada yang memandang dari sisi negatif dan itu adalah suatu kewajaran. Just be you self......jangan merubah sisi mu sendiri. Dua sisi itu adalah alami. Dan kita berhak memilih sisi yang paling sesuai dengan kita. Jangan pernah goyah dan takut untuk bersikap, karena kita berhak memilih. Dan setiap pilihan itu tidak ada nilai salah atau benarnya..


             **************************************************



Rabu, 14 Maret 2012

No One.....And Nothing..

Percaya dan harapan yang lebih terhadap orang lain adalah hal yang lumrah. Dalam berbagai proses dalam keseharian, kita memiliki ikatan yang yang lebih dengan individu lain, baik secara kita sadari maupun tidak. Semuanya mengalir dengan begitu alami hingga kita sampai pada satu titik dimana kita menjadi percaya dan memiliki harapan terhadap individu tertentu. Namun, disaat kita memutuskan untuk percaya dan menaruh harapan besar memberi arti bahwa zona hati-hati telah kita masuki. Kenapa??

Yaa...ada kemungkinan kita akan kecewa dibalik kemungkinan harapan kita akan terpenuhi. Kita harus menyadari dan realistis bahwa kemungkinannya adalah 50:50. Kita siap bersyukur kala harapan dan kepercayaan itu tepat pada sasarannya dan siap untuk tidak kecewa terlalu dalam kala harapan serta kepercayaan itu tidak sesuai dengan harapan.

Kepercayaan dan harapan yang berlebihan akan berefek buruk pada pribadinya sendiri. Kan memang sudah merupakan pengetahuan umum bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik, begitu pula dalam konteks ini. Terlalu percaya, akan membuat kita sangat kecewa apabila pihak yang kita percayai itu tidak memenuhi kriteria yang kita percayai. Hal ini akan membuat kita kecewa teramat dalam, hingga berakibat pada gangguan suasana hati yang mungkin membuat kita membenci pihak yang bersangkutan atau mungkin tak henti-hentinya berpikiran buruk kepada yang bersangkutan. Begitu juga dengan menaruh harapan terlalu besar, ada kalanya harapan kita itu hanyalah sebatas pikiran kita, tapi tidak dengan orang yang kita harapkan akan memberikan sesuatu kepada kita. Kita harus siap bahwa nantinya harapan kita tidak terpenuhi karena memang keinginan kita dengan pihak tersebut tidak sejalan. Kekecewaan terhadap harapan yang tak terpenuhi itu juga bisa mengganggu psikologis kita yang dikecewakan. Oleh karena itu, hati-hati. Kita harus terbuka dan fleksible dalam menjalaninya. Ada banyak kemungkinan. Jangan percaya dan memiliki harapan yang berlebihan terhadap orang lain ataupun sesuatu. Karena, terdapat banyak kemungkinan, dan kita harus siap dengan semua kemungkinan itu agar pada akhirnya tidak kecewa terlalu dalam. Jalani saja dengan apaadanya.....Lakukan yang terbaik dimana pun, kapan pun dan untuk siapa pun. Karena setiap kebaikan pasti akan berujung baik. Tidak perlu menyertakan harapan dan kepercayaan yang terlalu besar.

                                                                      *************************************

Minggu, 11 Maret 2012

Where Is Your Family..??

Apa sih yang telintas di otak kalian saat di bahas tentang keluarga?? Pasti yang lansung muncul d pikiran kita itu adalah bayangan rumah kita, ada orang tua, saudara, adik, kakak, anak atau istri atau elemen-elemen kelurga lainnya. Lalu apa sih deskripsi keluarga itu sebenarnya??



Well, keluarga itu adalah kompleksitas. Kompleks, kenapa?? Karena memang kompleks....saya sendiri bingung unttuk merangkai kata tentang sekedar definisi dari kelurga itu. yang saya tau hanya:

Keluarga membuat saya terlahir kedua ini,
Keluarga membuat saya merasakan dunia, bernapas,tertawa,nangis, serta semua warna-warna dunia lainnya,
Keluarga membuat saya bahagia,
Keluarga membuat saya belajar,
Keluarga adalah asal saya,
Keluarga memberikan saya cinta,
Keluarga memberikan saya semangat,
Keluarga memberikan saya ketulusan,
Keluarga mengajarkan saya peduli,
Keluarga mengajarkan saya tanggung jawab,
Keluarga memberikan saya prinsip,
Keluarga membuat saya tumbuh,
Keluarga memberi saya materi,
Keluarga membuat saya tertawa,
Keluarga membuat saya bermimpi,
Keluarga memberikan semua yang saya butuhkan....
Keluarga menemani saya sepanjang hayat...
Keluarga saya adalah jati diri saya...
Keluarga saya adalah saya...
Keluarga adalah elemen utama dalam diri saya...
Saya adalah keluarga saya dan keluarga saya adalah saya..
Yaa....Keluarga adalah awal dan muara semuanya setelah Allah SWT

Lalu dimana kamu menempatkan keluargamu??


Saya terus berpikir dan merasakan, hingga akhirnya saya menulis tulisan ini. Keluarga kita adalah Orangtua, Saudara, Adik-Kakak, dan elemen-elemen keluarga lainnya. Seberapa besar sih cinta kita dengan keluarga?? Sangat besar...Sangat kuat ikatannya. Lalu apa benar hanya keluarga inti saja yang bisa disebut keluarga?? Tidak begitu juga. Kita bisa memiliki keluarga dimana pun. Asal kita bisa menjalin hubungan baik dan memiliki ikatan yang tulus kekeluargaan itu bisa dibina, Siapapun bisa menjadi keluarga kita. Teman bisa menjadi keluarga, sahabat bisaa menjadi keluarga, rekan kerja, tetangga, pokoknya siapapun. Tapi masalahnya, acap kali terjadi kesalahan dalam perjalanan itu.

Oke, akan saya coba menjelaskan.
Ingat gak sama tanggal lahir orang tua?
Ingat ga sama tanggal lahir kakak, adik, nenek, kakek??
Tau ga ukuran sepatu sama baju semua anggota keluarga?
Buat lagi jauh dari rumah, dalam seminggu nelpon orang tua, saudara atau keluarga berapa kali?
Kalo ada anggota keluarga yang ulang tahun dikasih kado sama surprise ga?
Kalo sedih cerita sama siapa?
Kalo senang crita sama siapa?
Kalo misalnya liburan, yang dibayangin duluan mau ketemu siapa?

Hmm.....mungkin masing-masing kita punya jawabannya. Tapi, kebanyakan dari kita saya udah tau jawabannya. Emmm....Ada kecenderungan, kita tidak mengetahui detail-detail kecil dari keluarga kita sendiri. Mungkin memang hal-hal yang saya tanyakan barusan itu hanya hal-hal simple, sangat simple. Tapi hal simple itu lah yang bisa menjadi sangat penting.Hal-hal simple itu yang saya amati sebagai pembanding tentang penempatan kita terhadap keluarga dengan orang lain yang kita anggap berarti. Sedih memang, disaat seorang anak lupa tanggal lahir orang tuanya, tapi tanggal lahir teman-temannya dia ingat. Saat seorang kakak memberi surprise buat pacarnya, tapi buat adiknya sendiri ga ngasih ucapan selamat ulang tahun sama sekali. Seorang anak membagi keluh kesahnya kepada orang lain, tanpa satupun dari anggota kelurganya. Saat Liburan kuliah memprioritaskan waktunya hanya untuk kumpul sama teman-teman atau pacar dan melewatkan acara keluarga yang mungkin penting. Kenapa?? Kenapa lebih memprioritaskan hal lain daripada keluarga sendiri?? Kenapa cenderung memberikan perhatian lebih serta waktu yang lebih banya untuk sesuatu ikatan yang cenderung masih bersifat sewaktu-waktu. Okelah memprioritaskan teman dekat, tapi sekuat apapun hubungan itu, masih bisa putus. Oke lah memprioritaskan teman, tapi banyak pertemanan itu yang hanya beberapa waktu.Bukannya parno, tapi begitulah kenyataannya. Ga ada yang paling care, sayang dan tulus selain keluarga sendiri. Jangan mengenyampingkan keluarga hanya gara-gara kesenangan yang sesaat. Itu adalah kesalahan yang sangat besar. Hanya keluarga yang benar-benar ada dikala susah dan senang. Keluarga itu adalah diri kita sendiri loh.....Itu hanya contoh-contoh kecil saja.Itu adalah gambaran kesalahan kita dalam menempatkan keluarga. Meskipun tidak menuntut apa-apa, kenapa sih tidak memberikan prioritas, peduli dan posisi yang lebih baik kepada keluarga sendiri pada hal-hal lain??






Bukannya menutup dari kekeluargaan yang lain, kita butuh itu semua. Tapi yang jadi sorotan disini, tempatkan lah keluarga pada tempat yang seharusnya. Jangan mengenyampingkan keluargamu sendiri. Keluarga adalah kamu, dan kamu adalah keluargamu. Utamakan keluargamu setelah Allah SWT. Karena, tidak ada cinta yang lebih besar setelah cinta Allah selain cinta mereka, Keluarga mu sendiri. Inti dari tulisan ini, berikanlah perhatian, kepedulian, waktu dan cinta yang tulus dan ikhlas kepada sesama disekitar, terutama pada keluarga sendiri. Mulailah membagi cinta yang besar itu kepada Allah, dirimu, Keluargamu barulah kemudian kepada orang-orang disekitarmu.


                                                                                            =====I LOVE MY FAMILY====